Kisah Cinta dan Persahabatan


   Semilir angin menerpa wajahku membuat jilbab yang aku pakai bergerak samar, bintang-bintang di langit bertebaran bagai dayang yang sedang menemani sang putri dan putri itu adalah bulan, malam yang indah di sekolah, ya aku malam ini bermalam di sekolah karena sedang ada acara kemah pramuka, lihatlah teman-teman panitia yang belum beristirahat sejak tadi, aku hanya memandang mereka yang bekerja mengamati setiap detail pergerakan mereka, tatapanku terpaku pada seseorang yang berdiri di depan ruang guru badannya yang tinggi tegap membuat semua orang segan terhadap dia, aku mengenalnya baik, dia berkarakter tegas dan berwibawa entah mengapa aku merasa nyaman dengan menganggapnya sebagai pelindungku sejak SMP mungkin karena sikap dewasanya, tunggu dulu! Aku tidak menyukainya hanya sekedar sahabat dan kakak tidak lebih, mungkin aku akan menceritakan sedikit tentang dia, panggil saja dia Tama.
Sosok tegap itu berjalan menuju kerumunan anak laki-laki di depan UKS siapa lagi kalau bukan kumpulan macan putih, meskipun aku juga salah satu dari mereka aku hanya ingin menyendiri di sini, aku lihat mereka berbincang dan saling melempar canda, kumpulan itu terdiri dari enam laki-laki gila yang ditakuti anggota dewan ambalan dewan wira SMA enam laki-laki gila yang ditakuti anggota dewan ambalan dewan wira SMA Cloud, entah apa yang membuat mereka takut mereka adalah laki-laki gila dengan badan dan muka menyeramkan, tapi kelakuan mereka? Ah lihatlah tokoh utama kita yang tertawa karena membully bukankah itu hobi yang buruk? Aku memutar bola mataku saaf aku melihat mereka saling membully, akhirnya aku putuskan untuk bergabung dengan mereka.
“ Insaflah kalian, jangan saling membully, sama-sama gila itu harus saling mendukung “ aku berceloteh ketika aku sudah mendaratkan tubuhku di tempat duduk samping temanku “dari mana saja? Dicari dari tadi malah baru nongol “ seorang laki-laki memakai kaus coklat di depanku, dia paling gila kedua setelah pradana DADW SMA Cloud “ menyendiri menikmati hembusan angin malam itu nikmat “ jawabku seraya memejamkan mata memperlihatkan wajah menikmati “ nggak ngajak aku “ suara di sampingku terdengar menyedihkan dengan muka tertekuk dan bibir mengerucut “ yang namanya menyendiri ya nggak bakal ngajak orang Jar “ orang yang aku panggil Jar sebenarnya bernama Fajar mungkin kalian ingat ceritanya Kevano siapa itu Fajar, “ eh abang mana martabaknya? “ Bang Tama langsung memasang muka malas “ makan terus nggak gede-gede, nanti aja ya “ Aku merotasikan mataku “ hmm “
Bang Tama adalah sesosok makhluk ciptaan Tuhan yang membuat semua orang tunduk, perjuangannya sejak SMP terkadang membuat orang terinspirasi hanya dengan melihatnya saja, dulu waktu SMP kami berdua satu organisasi dan dia selalu aktif, aku kagum dengan dia yang acuh tak acuh akan cinta tapi sekarang? Semuanya terbalik dia telah memiliki seseorang spesial di hatinya tapi tenang saja aku masih kagum bukan karena kisah cintanya yang rumit dan flat tapi karena kuatnya hubungan mereka walau LDR, aku saja ditinggal si dia sibuk langsung ngambek nggak jelas, pernah sekali mereka bertengkar karena salah paham, hmmm sepertinya nikmat untuk diceritakan.
Waktu itu kami sibuk dengan pekerjaan kami sebagai DADW SMA Cloud, Bang Tama yang notabene nya sebagai ketua sedangkan wakilnya seorang perempuan, mereka selalu bersama karena tuntutan pekerjaan sampai beberapa orang mengira mereka sedang ada rasa, entah dari mana mbak Eka ceweknya abang bisa tahu semua ini dan dia beranggapan bahwa ada rasa tersembunyi di antara dua sejoli beda gender ini, aku jelas tidak tahan melihat ini jadi aku coba luruskan dan menceritakan yang sebenarnya ke mbak Eka, dia nggak percaya dan menangis, aku tahu berat menjalani hubungan jarak jauh beda jarak jarang tatap muka, susah juga menjadi penengah di antara mereka bang Tama dengan sifat cuek dan gengsinya dan mbak Eka dengan sifat yang perhatian dan baperan kaya aku.
“ Sudahlah dek mbak nggak apa-apa kok, kalau mbak udah nggak kuat mbak bakal nyerah dan melepas abangmu “ itu yang aku ingat dari perkataannya melalui chat pribadi kami saat aku mencoba membuat dia percaya “ mbak, kalau sekarang sudah tidak kuat, mbak tinggalkan sekarang juga tidak apa-apa, abang emang gitu sifatnya keras dan susah lunak “ aku hanya menimpali dengan asal-asalan “ terimakasih ya dek, mbak masih sayang sama abangmu, tapi kenapa rasa sayang ini membawa sakit? “ aku mengerutkan kening ketika membaca ini “ yang namanya cinta dan benci itu hanya beda tipis begitu juga dengan sayang dan sakit hanya bersekat tisu selapis tipis sekali “ aku tersenyum membaca ketikanku sendiri, mengapa aku tiba-tiba jadi bijak? Patut diberi julukan Patut diberi julukan Choco Teguh, sejak saat itu aku nggak berani menyinggung hubungan mereka sampai aku mendapat berita konfirmasi bahwa mereka nggak jadi putus, yeay !!!!!!
Setelah hubungan percintaan abang yang rumit bang Tama juga punya kehidupan yang aku sendiri nggak bisa menjelaskan, pokoknya dia terbaik lah perjuangannya ikut paskibraka Kabupaten mewakili SMA Cloud kami membuahkan kebanggaan tersendiri untuk dirinya dan kami para sahabatnya, abang waktu itu cerita bahwa dia berjuang melawan panas terik matahari hanya untuk mendapat tas tapi sekarang tas itu sudah hilang entah di mana itu membuat dia sedih beberapa hari meskipun dia tidak pernah menunjukkannya, dia juga selalu dilatih melakukan kegiatan fisik yang cukup berat sehingga dia menjadi berotot keras, sayangnya perutnya masih buncit belum kotak-kotak kaya oppa-oppa Korea yang sekarang lagi LDR perasaan sama aku, sedihnya jadi Choco.
Abang yang selalu melakukan aktivitas fisik selalu menghukum kami push up, untung aku nggak pernah, dia selalu berkata dengan lantang pada adik-adik junior untuk selalu disiplin jika ada yang telat dia langsung menghukum mereka
“ yang baru datang ambil sikap push up!! “ suara itu jelas sangat lantang dan membuat gemetar, adik-adik yang baru datang langsung mengambil suka push up “ 1... ! “ suara lantang itu mulai menghitung push up yang telah dilakukan mereka “ 2...!! “ oke aku mulai jenuh mendengar suara itu, suara tak berperasaan.
Dan ada banyak lagi tentang abang yang mungkin tidak bisa aku ceritakan di sini, aku bangkit dari dudukku untuk pergi ke UKS “ Choco, jadi martabak nggak? “ aku menoleh ke arah abang “ iya, manis sama telur ya “ jawabku bersemangat “ aku juga Tam “ Asvia menimpali percakapan kami “ dih ikut-ikut “ Abang memasang muka mengejeknya, aku hanya terkekeh melihat mereka yang akan melakukan perang dunia ketiga lalu merebahkan tubuhku di atas matras empuk dan memejamkan mataku “ enaknya datang langsung tidur “ Asvia memulai aksi berisiknya “ diam Via, di sini nyaman sekali “ aku masih menikmati nyamannya matras UKS “ lanjut berkarya sana “ suara itu meninggi “ nanti ah mager “ setelah itu aku tidak mendengar suara Asvia dan aku merasakan ada yang menarikku bunga aku terguling dan terjatuh dari matras “ sampai jumpa readers nya Choco, aku Asvia menyayangi kalian “. 

Komentar